Apakah hidup saya saat ini sesuai dengan keinginan saya?
Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sederhana, namun terkadang kita lupa untuk menanyakannya pada diri kita sendiri. Dan sejujurnya, pertanyaan diatas muncul dalam benak saya setelah saya mengamati pola kehidupan dari orang-orang di lingkungan saya yang bagi kebanyakan orang mungkin adalah normal, tapi menurut saya ada sesuatu yang hal yang sedikit salah dengan pola hidup orang-orang di lingkungan saya yang bentuknya seperti ini
Sekolah (SD+SMP+SMA/SMK) => Kuliah => Kerja (Jadi Karyawan) => Pensiun
Sepintas memang tidak ada yang salah dengan skema pola hidup seperti diatas, namun setelah saya teliti ternyata mayoritas orang melakukan skema di atas adalah karena rasa takut menjadi diri sendiri, dan sekedar ingin mencari keamanan finansial.
1. Rasa Takut Menjadi Diri Sendiri
Pada dasarnya manusia memang akan merasa takut bila menjadi berbeda dengan orang lainnya. Contohnya, pada waktu kecil pasti ada beberapa diantara kita yang pernah merasa minder karena diantara teman-teman bermain kita sendiri yang paling gemuk, atau hitam, atau pendek, dll. Hal itu diperparah (biasanya) karena teman-teman kita pasti juga akan membully kita yang menjadikan kita merasa terasing dan akhirnya korban bully ini akan melakukan apapun agar menjadi sama dengan teman-temannya.
Saya pikir hal semacam itu akan berakhir ketika sudah menjadi dewasa, ternyata tidak. Di lingkungan kampus saya banyak menemukan orang-orang yang sebenarnya memiliki bakat luar biasa di bidang khusus (seni, olahraga, bahasa, dll) memilih untuk masuk jurusan IT, Kedokteran, Akuntansi, Hukum, dan jurusan mainstream lainnya karena mereka menghindari pertanyaan bernada miring seperti
"Kamu kuliah jurusan 'X', besok mau jadi apa?!" atau
"Daripada masuk jurusan 'X' mending masuk 'Y' kaya bapak/ibu/sodara biar ada penerusnya"
atau kalimat-kalimat lain yang intinya adalah membuat mereka berpikir bahwa jika mengambil jurusan yang berbeda dengan orang kebanyakan maka mereka akan merasa bersalah dan akhirnya membuat mereka terpaksa mengambil jurusan yang bukan bidang keahliannya.
Ketika masuk dunia kerja, ternyata juga sama dan khusus kali ini "korban"nya adalah saya sendiri. Saya memilih untuk berkarier di bidang usaha network marketing, dan membuka beberapa usaha sendiri. Dan hasilnya karena saya memilih jalan yang berbeda dari orang kebanyakan maka kata - kata seperti
"Kamu ikut bisnis networking cuma kena tipu!", atau
"Daripada susah-susah membangun usaha dari awal, udah kepanasan/kehujanan, stress, masih ada resiko rugi, mending ngelamar aja di perusahaan X, jelas gaji + tunjangannya tinggi" sudah menjadi makanan saya sehari-hari. Tapi kenapa saya tidak berhenti? karena saya tahu inilah diri saya dan inilah yang membuat saya merasa hidup! Tidak peduli sudah berapa ratus orang yang mencoba menghentikan perjuangan saya, meminta saya berhenti dan menyuruh untuk memulai karier yang aman dengan bekerja sebagai teknisi di suatu perusahaan besar tapi tidak saya lakukan, karena saya merasa bahagia dengan bekerja keras untuk membangun usaha saya sendiri meskipun kerugian besar dan kegagalan adalah resiko yang harus siap saya hadapi setiap saat.
2. Keamanan Secara Finansial
Alasan kedua yang saya pelajari dari banyak orang di lingkungan saya adalah karena mereka ingin mendapatkan keamanan secara finansial. Sehingga mereka memutuskan untuk bersekolah dan mendapatkan nilai tinggi dalam ijazah mereka kemudian memilih pekerjaan yang aman (karyawan). Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pilihan karier ini karena secara teori memang lulusan terbaik akan memiliki jenjang karier yang baik dan gaji yang tinggi pula. Namun pada kenyataannya gaji tinggi dan adanya uang tabungan hanya akan bertahan hingga mereka menikah. Selanjutnya pola yang terjadi adalah tabungan semakin menipis karena mereka akan mengontrak/membeli rumah, membeli kendaraan pribadi (motor, mobil), dan mencukupi kebutuhan anak mereka sedangkan jenjang karier dan penghasilan mereka tidak banyak meningkat. Gaji yang dulu mereka anggap tinggi perlahan mulai membuat mereka khawatir karena mepet atau bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Dan disinilah saya melihat akibat terburuk dari mereka yang memilih untuk meniti jenjang karier sebagai karyawan dengan alasan "mencari keamanan finansial".
Mereka berpikir bahwa dengan gaji yang besar dan tetap mereka akan aman secara finansial, padahal yang terjadi pada kenyataannya adalah mereka akan selalu kekurangan karena kebutuhan dan harga kebutuhan mereka semakin meningkat, diperparah lagi ketika mereka pensiun mereka hanya akan memiliki sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki tabungan. Banyak dari mereka membela diri dengan perkataan "Kan waktu pensiun kebutuhan saya tidak sebanyak sekarang, makan ya cukup sederhana saja, rumah dan kendaraan yang penting masih layak" Memang benar kebutuhan mereka akan menurun, tetapi ketika mereka tua dan memiliki cucu, pasti mereka ingin memanjakan cucu mereka dan itu butuh biaya, belum lagi bila anda harus meminum obat karena penyakit tua. Jadi pilihan karier menjadi karyawan tidaklah cocok bagi anda yang berencana untuk aman secara finansial. Dan saya yakin hidup berkekurangan di masa tua seperti itu bukanlah hidup yang anda inginkan
Lalu bagaimana cara agar saya bisa menjalani hidup sesuai keinginan saya?
1. Renungkanlah dan ingat kembali kehidupan seperti apa yang ingin anda jalani
2. Mulailah menata ulang kehidupan anda, dan kembangkan potensi anda pada waktu luang
3. Bila anda sudah siap, anda bisa untuk memulai usaha sampingan di bidang yang anda sukai. Pada awalnya pasti anda akan menemui banyak kegagalan. Tapi bila anda tetap tekun menjalankan maka anda tidak hanya akan merasa "hidup" karena melakukan hal favorit anda, namun sekaligus mempersiapkan dana pensiun anda sendiri
4. Bila anda adalah remaja/pemuda yang belum meniti jenjang karier, ingatlah bahwa kunci sukses adalah "Do What You Love, and Love What You Do". Jadi pikirkanlah dan buatlah jalur karier anda baik-baik, belajarlah banyak dari orang-orang yang kehidupannya mirip dengan apa yang anda inginkan dan beranilah untuk memulai dan melakukan
Salam Sukses,
Marshal

No comments:
Post a Comment